Aku mendapat cerita ini dari orang PLN yang kukenal, namanya Mas Nur Kholis. Langsung saja ke ceritanya, ada seorang ulama bernama Adam bin Idris dan 3 orang pemuda dari desa lain. Pada saat itu Adam bin Idris berada di tempat peristirahatan (kuburan) orang yang telah jenat (meninggal). Lalu datang 3 orang pemuda, dia bertanya kepada Adam bin Idris.

Pemuda "Mohon maaf Pak!!, di sini desa / kampung yang terdekat di mana ya Pak?".
Adam bin Idris "Lha di sini, (sambil menunjuk ke kuburan)".

ketiga Pemuda dengan geramnya memukul Adam bin idris hingga babak belur. Kemudian lewat seorang penduduk di sekitar sana, dan menghentikan 3 pemuda tersebut, dan berkata
Penduduk "Apakah kalian tidak tahu, kalau beliau itu adalah Adam bin Idris, ulama terkenal?".
3 pemuda sambil ternganga, seakan tidak percaya, bahwa yang telah mereka pukuli adalah Adam bin Idris.

Dengan wajah penuh ketakutan karena jika Adam bin Idris meminta sesuatu yang buruk terhadap mereka kepada ALLAH, merekapun meminta maaf kepada Adam bin Idris.
Namun dengan senyum penuh sayangnya Adam bin Idris kepada ke 3 pemuda tersebut, beliaupun malahan mendoakan ke 3 orang pemuda tersebut "ya ALLAH, masukkanlah mereka ke dalam surgamu".

Dengan penuh rasa takjub, tidak percaya, dan senang yang bercampur aduk kepada Adam bin Idris, mereka kemudian berterima kasih kepada Adam bin Idris. Masih dengan perasaan penasaran, mereka bertanya kepada Adam bin Idris

3 Pemuda "Wahai ulama, mengapa engkau mendoakan kami, padahal kami sudah memukul engkau hingga babak belur?".

Adam bin Idris "Aku berterima kasih kepada kalian, karena itu aku berdo'a kepada ALLAH agar kalian dimasukkan ke dalam surga".

3 Pemuda "Lho, kami sudah memukuli engkau wahai ulama, mengapa engkau malah berterima kasih kepada kami?".

Adam bin Idris "Kalian telah menguji kesabaran hatiku dengan memukuliku, jika aku membalas, maka hilanglah semua dariku".

Mereka masih dengan keheranan terhadap Adam bin Idris bertanya lagi
3 Pemuda "Mengapa saat kami bertanya dimana desa terdekat, malah engkau menunjukkan kuburan ini? yang membuat kami menjadi geram".

Adam bin Idris "Apakah engkau tidak pernah tahu, memang inilah kampung/desa terdekat untuk kita, kita akan segara di sini".

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil contoh, betapa kita harus dapat menjaga kesabaran. Karena ada dua tanda seorang manusia itu beriman, yaitu bersabar dan bersyukur, keduanya tidak dapat terpisahkan, pada saat seorang bersabar menanti rezeki ALLAH, merekapun juga bersyukur karena dihindarkan dari bahaya yang lain dan sebagainya.

Tapi mengapa saya memberikan judul kain keset, adalah di bagian ini. Apakah benar akan masuk surga secara sekonyong-konyong orang yang didoakan oleh orang yang dekat dengan ALLAH untuk masuk surga. Perumpamaan ini diibaratkan sebagai kain keset.

Kain keset walaupun berjasa telah membersihkan kaki orang, dia hanyalah sang keset yang tidak dapat dimasukkan ke dalam lemari, dan doa tersebut sebagai alat pencuci, kain keset yang telah dicuci sebersih apapun, tidak akan pernah dia dimasukkan ke dalam lemari.

Akan tetapi jika kain keset tersebut dapat mengubah dirinya menjadi baju, maka tidak mungkin dia akan berada di luar lemari.

Seperti manusia, apabila dia tidak mengubah dirinya sendiri agar dapat menjadi baju, atau menjadi lebih baik, maka dia tak elaknya seperti kain keset yang walaupun dibersihkan / didoakan oleh seorang ulama sekalipun, dia tidak akan pernah masuk ke lemari / surga.

Mohon maaf, bagi Anda yang masih awam, jangan terlalu memikirkan blog ini dengan terlalu sungguh-sungguh, jika tidak sesuai dengan hati Anda. Terima kasih, dan ditunggu selalu komentarnya

(kisah tersebut telah berbeda dari cerita awalnya, namun dengan inti yang sama, mohon maaf jika ada kesalahan dalam bercerita)
Read More
ilustrasi, bukan gambar aslinya
Hari ini aku mulai dengan sebuah upacara seperti biasa, iya, hari ini tanggal 17, yang notabene untuk setiap perusahaan yang masih milik negara harus ada upacara bendera. Hari ini aku berangkat lebih pagi, karena upacara akan dimulai jam 6:45, dan semakin mundur karena persiapannya hingga sampai jam 7 lebih mungkin.

Siap gerak, kali ini dan seperti upacara-upacara sebelumnya pemimpin upacara adalah Bapak Satpam, yang sampai saat ini saya belum tahu namanya, hanya 2 orang satpam yang baru kukenal hingga saat ini, Pak Heri dan Mas Arif. Pembina upacara, juga seperti upacara bulan kemarin, manager baru kami, namanya Pak Isdenta Sinurat. Aku berdiri, berbaris di depan, bersama teman perempuanku, Farah namanya. Yah, itulah kalau masih OJT, serasa kita diperlakukan sebagai anak kecil yang bisanya hanya menangis dan harus mengalah dengan orang yang lebih tua. Namun semua itu gak jadi masalah jika kita tidak menambah panjang masalah seperti itu, kita hidup di lingkungan sosial dan pada umumnya ada pasang surut pergaulannya. (Ah, lutcu banget, memikirkan masalah dunia yang kadang tiada habis perkara satu akan muncul perkara yang lain).

Upacara dimulai, sesi-sesi upacara berjalan seakan terasa melambat, seperti siput yang merayap, berjalan (apalah namanya) ke ujung pohon. Dengan perasaan dan tubuh yang tegang, walaupun tidak ada keringat yang mengalir dari dahi, kepala ataupun pelipis, karena hari ini udara sejuk, tidak terlalu panas dan tidak mendung, kalau orang percuacaan bilang, suasana di sini berawan.

Cuit, cuit, cuit, cuit, suara burung pipit yang seakan mengejek, "hai manusia, apa yang kaulakukan?, kenapa tidak sepertiku yang bebas terbang ke sana kemari, walaupun terkadang aku tidak tahu kemana terbangku tuju, tapi aku dijamin rezeki oleh Sang Maha Kuasa. Aku hanya perlu mengepakkan sayapku, dan pergi entah kemana, lalu ada sebuah biji tergeletak di atas bumi, dan aku tidak pernah tahu, kenapa bisa seajaib itu, aku hanya percaya bahwa Tuhanku yang memberikan itu semua. Namun aku adalah makhluk yang diciptakan Tuhanku dan Tuhanmu yang senantiasa bersyukur, aku bersujud, aku berdzikir, akan tetapi engkau tidak akan pernah mendengarnya. Karena di hatimu masih banyak sesuatu hal yang aku tidak diberitahu oleh Tuhanku mengenai hal itu. Kau adalah penjaga bumi, bahkan tidak ada makhluk lain yang mau diberi tugas oleh Tuhanku, karena tugas itu memang sangat sulit, gunungpun akan hancur karena tugas itu. Baiklah, aku pergi dulu!!".
Perasaan tegang yang tadi ada, hilang entah kemana, pengakalan serius memperhatikan pembina upacara hilang begitu saja dari pikiran. Pikiran menjelajah kesana kemari, kadang kembali ke upacara, kadang menghilang lagi entah kemana.

Yang terasa hanya perasaan terkekang, jika memikirkan tentang peraturan pekerjaan di perusahaan. Namun adakalanya kita harus menikmatinya, di sisi lain kita juga terkekang peraturan Tuhan. "Peraturan Tuhan, apalagi ini? Dalam hidup, apapun yang kita lakukan selalu dan tidak akan pernah terlepas dari pandanganNya, apa yang kita lakukan dalam hidup ini, bahkan yang lebih hebatnya lagi Tuhan tahu apa yang ada dalam hati kita. tidak ada perumpamaan yang dapat dijadikan padanan dalam hal ini olehku."

Kemudian kugerak-gerakkan jari-jari kakiku, kalau boleh dibilang telapak kakiku ikut kugerakkan. Lalu kulihat bunga di taman, ya, kami upacara menghadap ke taman yang di tengahnya ada bendera merah putih, lambang negara yang notabene merah melambangkan berani dan putih melambangkan suci, entah mungkin itu karangan orang dahulu atau pahlawan yang menyobek bendera belanda yang dulunya ada tiga warna dan tersobek oleh pejuang dan tinggal dua warna, mungkin karena itu juga para pahlawan menghormati pejuang bendera tersebut dengan membuat karangan warna dari masing-masing bendera, entah apa maksud orang-orang terdahulu.

Kembali ke bunga tadi, entah apa namanya bunga itu, warnanya merah, dan memiliki daun kecil, namun banyak, yang kalau dipetik dan dihirup tangkainya akan terasa manis, mungkin itu madu dari sang bunga, mungkin itu perumpamaanku bagi wanita sholehah, indah di luar dan manis di dalam, ah, kenapa melantur ke masalah ini, oh, indahnya alam ini, namun teringat kata-kata yang ada di buku bacaan tadi malam, janganlah engkau suka padaku, karena aku hanyalah fitnah, kata dunia fana ini.
Kemudian kuliah disekitar rerumputan di taman, di sebelah rerumputan itu ada tanaman kecil-kecil, memiliki banyak daun, namun hanya memiliki bunga berwarna kuning, di sana kulihat serangga mungil, diam memegangi erat si daun tanaman tersebut, seakan kokoh semangatnya untuk tak mau terlepas dari sang daun walaupun terkena angin yang bertiup lumayan kencang, sambil menggerak-gerakkan antenanya, seakan mengajakku untuk semangat dan kokoh dalam menjalani hidup. Jangan lepaskan janji yang telah engkau perbuat begitu saja, bagaikan kuatnya cengkraman serangga tadi terhadap daun, walaupun badai halangan dan rintangan besar, jangan, jangan, dan jangan lepaskan, kokohkan hatimu untuk mencapai kehidupan yang lebih baik esok.

Tanpa terasa, petugas upacara membaca do'a, yang artinya upacara akan segera berakhir, terima kasih Tuhan semesta alam. Oh iya, juga terima kasih sekali lagi kepada teman perempuanku, yang hari ini tidak seliwengan (sempoyongan) akibat tidak kuat berdiri, katanya dia darah rendah, dua upacara yang lalu, dia meninggalkan upacara karena tidak kuat dan duduk di belakang. Untuk teman perempuanku, jangan patah semangat, dan jaga apa yang telah engkau janjikan kepada semua orang.

Sudah aku mau kerja dulu.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home